Menempuh Jalan Dosa Untuk Suatu [yang] Mulia, Mungkinkah?

Aska Aprilano Pattinaja, M.Th. 21 Aug 2026
Menempuh Jalan Dosa Untuk Suatu [yang] Mulia, Mungkinkah?
A
Aska Aprilano Pattinaja, M.Th.
Penulis Mimbar Akademik

Tulisan ini hendak dimulai dari cerita fiksi:

 

“Seorang bapak dengan kehidupan religius meminta anaknya menghapus impiannya sebagai seorang teknokrat dengan memintanya menjadi pemuka agama. Si bapak berkeyakinan bahwa menjadi seorang pemuka agama akan memberikan jaminan kebahagiaan baik di dunia maupun di surga. Singkatnya, bapak ini mendaftarkan anaknya ke tempat pendidikan demi bisa menjadi seorang rohaniwan yang memimpin banyak orang. Dia akan dimuliakan, disegani, serta mendapatkan berkat selama di dunia dan upah di surga. Setiap malam, sang anak terus menangisi kuburan mimpinya itu. Dia meratap seakan semesta telah merenggut impian dan harapannya. Di satu sisi, dia menjalankan ajaran agama melalui ketaatannya kepada bapak, agar bapaknya mendapatkan peningkatan strata sosial, namun di sisi lain dia harus mematikan mimpi yang ingin dicapai dan menjadi jalan amalnya bagi masyarakat.” (ilustrasi fiksi)

 

Cerita fiksi ini memberikan cerminan hidup sebagian dari sekelompok manusia religius yang menonjolkan ego religiusnya dengan mengorbankan mimpi masa depan anaknya. Dibalik upaya menjadi seorang yang dimuliakan, sang bapak telah mengubur mimpi yang membuat anaknya berbahagia. Ada anak yang tersakiti batinnya, hanya demi melihat orang tuanya berbahagia dan dimuliakan. 

 

Memang, “rasa sakit” yang dirasakan oleh sang anak dapat dilihat dari dua corong pandang yang berbeda. Bagi sang bapak, ketundukan anak merupakan suatu kewajiban dan akan membawanya dalam kemuliaan kelak. Memang demikianlah ajaran agama. Corong lainnya justru memberikan ketegangan. Tentu, sebagai manusia berakal, memaksakan kehendak bukan cerminan seseorang yang religius. Lebih dalam, jika agama melarang penganutnya menyakiti orang lain, lalu apa yang akan dikatakan terhadap bapak ini? Jika menyakiti orang lain adalah “dosa”, dapatkah dikatakan bapak ini sedang “berdosa sebagai jalan menuju kemuliaan”?

 

Mari kita maju pada cerita kedua, kejadian nyata yang sarat refleksi:

 

“Seorang rohaniwan sangat loyal terhadapkegiatan kerohanian yang sedang dia tekuni. Dia menghidupi keyakinan “Tuhan layak menerima yang terbaik dari kita” sehingga harus totalitas dalam pengabdiannya. Sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membiayai kegiatan, karena hasrat memberi yang terbaik itu. Baginya, menderita adalah bagian dari pengabdian karena itu adalah harga yang harus dibayar. Di suatu pagi, rohaniwan ini mengantar istrinya berbelanja. “Habis berapa belanja kita hari ini”, tanyanya. Dengan sedikit terbata-bata dan nada segan sang istri menjawab, “lima puluh ribu untuk belanja kita hari ini”. Rohaniwan itu menimpali jawaban istri, “kok mahal sekali belanja kita untuk makan sehari?, sepertinya kamu terlalu boros dan perlu mengatur keuangan lagi dengan baik.”

 

Mari membaca cerita itu dengan sudut pandang istri. Tentu Anda akan sangat kecewa dengan sikap dan perilaku dari rohaniwan ini. Ego religiusnya tak mampu lagi melihat cintanya terhadap istri seperti sebelumnya. Dibalik sikap dermawan sebagai seorang yang ingin dinilai religius, rupanya ada batin istri yang tersiksa. Sang perempuan yang dipaksa tunduk pada ego religius suami, bahkan sepertinya dia (perempuan) tidak lagi memiliki hak berbahagia dengan caranya sendiri. Tidak berdosakah sang suami ini?

 

Menempuh jalan dosa untuk suatu [yang mulia], mungkin kah? Realitas menunjukkan bahwa hal itu “ternyata mungkin”. Dua kisah baik fiktif maupun berdasarkan kisah nyata ini menunjukkan betapa kejamnya egoisme religius. Idealnya, agama menjadikan cinta kasih sebagai jalan menuju kemuliaan, yang dirasakan dengan penuh kebahagiaan. Egoisme religius berpotensi menjadi parasitis dalam humanitas religius, yang memaksa orang lain merugi agar kemuliaan dapat diraihnya.

 

Bagi sebagian sosiolog, kapitalisme agama juga menjadi sasaran kritik terhadap perilaku beragama di era modern. Max Weber merupakan salah satu penggagas pemikiran kapitalis di lingkup keagamaan. Melalui bukunya yang berjudul “Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus”, dia memaparkan bagaimana keyakinan agama berkembang menjadi kelompok yang mengatur pranata sosial, yang dikenal sebagai kelompok kapitalis. Albrecht Ritschl, seorang teolog Jerman yang kondang dikenal sebagai tokoh liberalisme, memberikan titik tekan pada nilai kemanusiaan sebagai perwujudan kerajaan Allah. Baginya, dosa adalah ketidakmampuan seseorang mewujudkan kerajaan Allah, yaitu damai dan manusiawi. Dari kedua pandangan itu dapat direfleksikan bahwa agama dapat dijadikan instrumen pencapaian sosial yang berisiko menyamarkan nilai spiritualitas agama dan meminggirkan nilai kemanusiaan.

 

Kedua cerita di atas merupakan potret kecil tentang bagaimana religiositas justru beralih fungsi menjadi dominasi manusia, pengabaian kemanusiaan, tumpulnya empati, dan egoisme religius. Bagi kelompok Ritschlian, hal itu adalah dosa. Bukan secara eksistensial, melainkan sebagai perwujudan kemelencengan dari panggilan religius seseorang terhadap keyakinan yang dihidupi.

 

Bagaimana menghindari jalan dosa menuju kemuliaan? Tentu, menghidupi panggilan spiritualitas menjadi kunci untuk menemukan kesadaran akan apa yang kita agungkan, berakhlak, dan berpengharapan. Panggilan iman Kristen perlu meniti dan memeriksa kembali jalan spiritual Yesus sembari bertanya, “Apakah Yesus pernah menempuh jalan dosa untuk dimuliakan?” Paulus dengan gamblang menerangkan:

 

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia (Yesus) dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Fil. 2:9)”

 

Kemuliaan yang diperoleh Tuhan Yesus adalah melalui“jalan kemanusiaan”. Melepaskan kemuliaan ilahi dengan mengambil rupa insani, menjadi hamba dan berkorban bagi manusia. Jalan menuju kemuliaan yang ditempuh Yesus menjadi antitesis pada masa itu. Di saat banyak ajaran menuntut upaya pemuliaan diri dengan berbagai cara, justru Tuhan Yesus mengambil “jalan kemanusiaan”. Kemuliaan diperoleh dengan cara yang mulia, yaitu berempati, berkorban, dan berkemanusiaan. 

 

“Saat lebih banyak orang berlomba untuk dipermuliakan sesamanya meskipun menempuh jalan dosa, mampukah kita memilih untuk membiarkan kemuliaan itu hadir melalui cara kita berkeyakinan?”